Sabtu, 23 Juni 2018

Ingatan

Rintik Rindu
Oleh : Sugiarti Rahayu

Semua masih sama, seperti malam-malam yang ia jalani sebelumnya. Dia yang berharap perlahan dapat melupakan hal itu, dengan hujan yang seakan enggan membuat ingatan wanita itu lenyap. Ingatan yang selalu tertuju pada delapan dekade lalu lamanya.

Wanita itu membenarkan posisinya kala itu menjadi terlentang dengan lengan sebagai bantalan. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan nanar, matanya telah hilang binar. Lihat! Ia tidak terkapar karena luka, namun pedihnya menyayat dan sangat ia ingat.

Tak terasa butiran kristal bening jatuh begitu saja dari pelupuk matanya, membuat wanita itu cepat-cepat menghapusnya seakan ia tak ingin satu orangpun melihat sisi rapuhnya. Ah padahal di dalam bangunan itu hanya ada dirinya dan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya juga dengan kenangan yang terus mengikuti tentunya. Ia tersenyum lirih, hujan yang jatuh malam ini hanya akan membawa dua kemungkinan. 'Menghapus segala memori yang membuatnya terluka, atau justru semakin membuat rasa perih dalam jiwa karena luka yang semakin terbuka.

Wanita itu -- Alea. Ia memejamkan mata, memanjatkan doa kilat dalam hatinya agar ia dapat melupakan kenangan yang tentunya bukan hal yang cukup menyenangkan untuk di kenang.

"Alea?" suara berat itu berhasil membuat Alea menatap ke arahnya.

Ia tersenyum, "kenapa Arka?"

"Belum tidur?" tanya lelaki itu masih dengan posisi tubuh membelakangi wanita itu juga lengan yang memegang pena dengan setumpuk buku di hadapannya.

Alea menggeleng pelan. Meskipun ia tahu, lelaki itu tak akan melihatnya. "Belum! Mungkin sebentar lagi, pekerjaanmu belum selesai?"

Terdengar helaan nafas berat dari lelaki itu, "belum masih banyak yang harus aku kerjakan. Kalau kau sudah lelah, tidurlah aku akan mengerjakan pekerjaanku terlebih dahulu."

Alea tidak lagi menjawab. Ia mengubah posisinya menghadap ke arah barat, membuat tatapannya terkunci pada sebuah bingkai foto masa putih abu dulu. Cepat-cepat ia mengatupkan matanya dengan rasa gelisah yang kembali menyerang dirinya.

**

"Alea, bangun."

Arka mengoyang-goyang lengan wanita yang kini tengah tertidur dengan keringat dingin yang bercucuran membasahi pelipis matanya. Berkali-kali wanita itu bergerak gelisah, nafasnya terengah wanitanya kini tengah bermimpi buruk.

"Alea, tenanglah."

Wanita itu membuka matanya lalu duduk dengan tegak,ia mengedarkan pandangannya lalu menatap lelaki yang ada di hadapannya dengan nanar. Tetesan kristal bening kembali jatuh membasahi pipi wanita itu. Ia menangis dengan tersedu-sedu, membuat Arka refleks memeluknya dengan erat.

"Tenanglah sayang, aku ada di sini."

Tangis Alea semakin pecah dadanya bergemuruh hebat. Sesak! Kata pertama yang dapat mendeskripsikan bagaimana keadaan wanita itu.

Ia mencengkram kaos yang lelaki itu gunakan, wajahnya ia benamkan pada dada bidang Arka --- suaminya. "Aku takut Arka, aku takut. Mim -- pi mimpi itu datang lagi," ucap Alea di sela-sela tangis yang belum mereda.

Arka menatap wanita itu dengan sorot mata terluka. Ia tahu, wanitanya kini masih mencintai lelaki yang berada di masa SMAnya.

"Tolong lupakan itu Alea, apa kamu tidak bisa menerima hadirku di sini sebagai suamimu? Kau masih mencintainya Alea? Katakan padaku." ujar lelaki itu setelah melepas pelukannya.

Alea menunduk, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Melupakan lelaki yang telah bertaruh nyawa hanya untuknya? Itu tidak mungkin. Tidak! Sama sekali tidak! Alea memang masih mencintai lelaki itu teramat dalam, hingga tidak ada celah lagi untuk lelaki lain mendapatkan cinta Alea. Termasuk Arka, suaminya kini!

Arka mendecih sinis, "aku tahu Alea. Kau masih sangat mencintainya, lalu untuk apa kita pertahankan hubungan ini jika tidak berlandaskan cinta? Aku mengerti bahkan sangat mengerti, selama ini hanya aku yang berjuang mempertahankan hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi." ia hendak beranjak pergi meninggalkan Alea sendiri di dalam bilik kamar ini.

Namun pergerakannya seketika terhenti saat Alea turun dari ranjang lalu memeluk erat kaki lelaki itu, "maafkan aku Arka. Aku tahu, aku terlalu bodoh. Hingga aku tak bisa memahami arti sebuah kehidupan, tolong beri aku kesempatan. Aku akan melupakannya, yang seharusnya sudah aku lakukan sejak dulu. Aku berjanji Arka, aku akan melupakan hal itu."

Melihat wanitanya kini tengah bersimpuh di hadapannya, membuat hati Arka serasa dihunjam beribu batu. Ia berjongkok lalu memeluk erat tubuh lemah wanita itu lagi, "tolong jangan pernah rusak kepercayaanku Alea. Aku juga berjanji, aku pasti bisa membantumu untuk melupakan itu." bisiknya tepat di telinga Alea.

"Ku mohon, jangan pernah pergi dari hidupku. Kau berati bagiku Arka, sangat berarti."

Arka mengangguk, "tidak akan pernah aku lakukan itu. Aku mencintaimu Alea," ia mengecup kelopak mata Alea yang basah karena air mata. "Jangan menangis, karena sebisa mungkin aku akan membuatmu tersenyum."

Kedua tersenyum lalu kembali saling memeluk erat, menyalurkan rasa hangat yang sudah lama mereka nantikan.

Bukankah untuk melupakan seseorang itu, kita membutuh orang baru dalam hidup ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar