Sabtu, 23 Juni 2018

Duri

Duri yang ku genggam
Oleh: Sugiarti Rahayu

"Sampai kapan aku harus menunggu?"

Lelaki itu menoleh, "aku tidak pernah memintamu untuk menunggu."

"Aku cemburu Allan, aku cemburu!" ucap wanita itu dengan letupan amarah yang siap membludak. "Aku ini istrimu, sudah seharusnya kau hargai aku. Tidak sepantasnya seorang suami berciuman dengan wanita lain di hadapan istrinya, aku terluka Allan atas sikapmu." usai mengatakan itu, tetesan kristal bening terjatuh dari pelupuk mata wanita itu tanpa bisa di bendung lagi.

Lelaki yang ia sebut dengan panggilan Allan itu menggertakan giginya, dengan kasar ia menghempaskan gelas yang tengah ia pegang. "Sudah kubilang, aku tidak pernah berharap pernikahan ini ada. Aku tak pernah sudi bersanding denganmu, bodoh! Aku mencintai wanita itu, bukan kamu! Apa kau terlalu idiot untuk mengerti hal itu?"

Wanita itu mengangguk, "aku tau Allan. Aku mengerti, tapi salahkah aku jika berharap suatu saat nanti kau akan mencintaiku lalu kau akan meninggalkan wanita jalang itu demi aku? Salahkah itu Allan? Selama pernikahan yang telah berlangsung empat dekade ini apa kau masih tidak bisa mencintaiku? Tidak bisa terbiasa dengan hal yang dilakukan bersama ku? Hingga kau memilih untuk kembali merajut jalinan kasih dengan wanita sialan itu?"

"Berkhayal-lah setinggi mungkin, agar kau tahu bagaimana rasanya jatuh dihempaskan oleh kenyataan."

Tak perlu bertanya seberapa sakit hati wanita itu setiap kali mendengar penuturan lelaki bertubuh tegap yang kini berstatus sebagai suaminya. Seberapa lama lagi wanita itu harus bertahan dengan segala sikap lelaki itu padanya? Ia ingin menyerah, tapi tak bisa. Ia ingin melepaskan, tapi rasanya terlalu sakit jika hal itu terjadi.

Memang, sudah seharusnya jangan terlalu memuja mawar. Karena sesuatu yang indah juga dapat menyebabkan tumpah darah.

***

"Apa kau terluka dengan pernikahan yang kamu jalani hingga kini?"

Wanita itu menggeleng dengan cepat, senyum cerah tercetak jelas pada wajah putih pucat miliknya. "Tidak, aku bahagia pernikahan ini terjadi. Suamiku mencintaiku, suamiku menghargai aku, memperlakukan aku dengan sangat baik. Aku sungguh bahagia bisa dipertemukan dengan lelaki seperti Allan."

Orang yang kini ada di hadapannya tersenyum lirih. Ia berjalan semakin mendekat ke arah wanita itu --- Alina istri Allan, tanpa mengucapkan satu katapun ia memeluk dengan erat tubuh lemah Alina. Seberapa hebatpun ia bersandiwara tentang keadannya, sorot mata yang terpancar selalu mengatakan hal sebenarnya. Alina terluka. Alina tak bahagia.

Dengan lengan yang bergetar, Alina membalas pelukan wanita itu --- Ilma. "Aku bahagia Ilma, aku bahagia."

"Hentikan Alina. Ku mohon lepaskan sesuatu yang dapat menyakiti hatimu, terkadang kamu harus mengikhlaskan hal yang tidak di takdirkan untukmu. Untuk apa kamu bertahan dengan segala pengkhianatan yang ia lakukan? Kau pantas bahagia Alina, kau pantas dapatkan itu."

Katakanlah bahwa Alina adalah wanita terbodoh sepanjang peradaban dunia ini. Tetap bertahan meski sayatan luka mengiris-ngiris hatinya.

"Tapi bahagiaku adalah memiliknya Ilma."

Sudah cukup. Ilma muak dengan apa yang di katakan oleh Alina!

"Lo sahabat gue Alina! Gue tau lo enggak bahagia sama dia, apa susahnya sih lepasin aja cowok brengsek kayak dia? Janji dalam akad pernikahan itu apa hah? Menyakiti perasaan pasangannya hah? Enggak kan!"

Alina melepas pelukan itu, ia mendongak menatap tepat pada iris bola mata sahabat sejak kecilnya itu. "Tapi aku enggak bisa Ilma, aku mencintainya. Sangat mencintainya,"

***

Alina menutup buku diary berwarna hitam itu lalu menyimpannya kembali pada laci meja rias yang ada di kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar, kemudian tatapannya terkunci pada sosok lelaki yang kini tengah tertidur dengan lengan sebagai bantalan.

Perlahan ia berjalan mendekat ke arah lelaki itu -- Allan. Senyum lirih timbul begitu saja setiap kali ia memandang wajah suami tercintanya. "Aku mencintaimu, Mas."

Dering ponsel terdengar setelahnya. Dengan hati-hati Alina mengambil ponsel yang tergeletak di samping tubuh suaminya. Ia dapat melihat dengan jelas siapa yang mengirimi pesan pada suaminya di malam hari seperti ini.

Bibirnya bergetar menahan tangis setelah ia membaca pesan singkat di ponsel suaminya.

Teresa: Aku sangat suka dengan cincin yang kau beri, Bang. Aku menerima lamaranmu! Lalu kapan kau akan menceraikan istri sialan mu itu?

Dengan tangis yang bercucuran, ia kembali menyimpan benda pipih itu ke tempat semula. Alina menggerakan lengannya, menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya yang kini tengah terlelap dengan pulas.

"Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu. Seberapa besarpun usahamu untuk menyakitiku, aku akan tetap bertahan. Meski aku tahu, sayatan luka akan semakin banyak aku terima."

Usai mengatakan itu, Alina keluar dari kamar itu. Memang! Terkadang cinta dapat membuat seseorang menjadi buta akan segalanya. Tetap bertahan meski harus tersakiti. Mencintai tanpa ada balasan, sangat menyakitkan. Bahagia itu di ciptakan, bukan dicari dan jika kau tak bahagia bersamanya, lepaskan. Untuk apa menanti bahagia suatu saat nanti. Jika sekarang bisa, kenapa tidak? Namun bertahan nyatanya bukan hal yang terlalu buruk untuk dilakukan. Lakukanlah! Meski bertahan dalam segala pegkhianatan itu seperti menanti pelangi usai hujan di malam hari.

Percaya saja pohon dari sebuah kesabaran akan menumbuhkan buah yang manis, yang dapat kau petik usai semuanya selesai kau lewati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar