Senja-pun tahu.
Oleh: Sugiarti Rahayu
"Ada kalanya kamu tak perlu mencari tahu, sesuatu yang akan menyakiti hatimu."
Seorang wanita yang ada di hadapannya menggelengkan kepala tanda tak setuju, "Aku harus tahu semuanya! Kau kira ini mudah? Dia pergi meninggalkan-ku juga bayi yang kini ada dalam rahim ku!"
Nafasnya memburu, kilatan matanya siap menghunjam siapa saja yang berani menatap manik mata berwarna biru langit itu. Jiwanya tengah dikuasai amarah, rasa kecewa juga rasa sesak yang menyeruak dalam benaknya membuat wanita itu tak segan berteriak lalu melampiaskan amarah yang sudah bergejolak.
"Hentikan Ami, kau hanya akan melukai tubuhmu!" ujar lelaki itu dengan tegas. Lengannya ia ulurkan untuk menggenggam erat tangan kanan Ami. Berharap Ami akan menghentikan tingkah gilanya yang mencoba untuk melukai lengannya sendiri.
"Lepas! Untuk apa aku tetap hidup? Jika kini dia pergi dengan wanita lain, berbahagia tanpaku. Sedangkan aku di sini menanggung rasa malu yang tak bisa di elakan, aku benci dengan diriku sendiri. Aku tahu, aku hanya sampah yang tak berarti. Biarkan aku ma----" ucapannya terhenti. Kala lelaki yang ada di hadapannya kini merengkuh tubuh lemah Ami ke dalam dekapan.
"Kau tak perlu mengatakan hal itu, apa kau tidak tahu? Aku sangat terluka mendengar semua ucapanmu. Kau berarti Ami bagiku sangat berarti! Apa kamu terlalu buta untuk melihat ketulusanku dalam mencintaimu?"
Ami memberontak. Ia terus memukul dada bidang lelaki itu, "lepaskan aku! Aku tahu semua ucapmu hanya kata-kata penenang saja."
"Apa sebegitu cintanya kamu dengan lelaki bajingan itu Ami?"
"Hei jaga ucapmu sialan!"
Terdengar desisan dari lelaki itu, ia melepaskan Ami lalu menyunggingkan sebuah senyum sinis. "Dia memang bajingan bukan? Jika dia bukan seorang bajingan, ia tak akan mungkin meninggalkanmu dengan bayimu tanpa sebuah tanggung jawab. Apa kau masih terlalu bodoh untuk memahami itu?"
Ami membisu. Tubuhnya terkulai lemas, butiran kristal terjatuh bebas dengan deras dari peluk matanya tanpa bisa dihalau apapun. Beberapa kali isakan tangis terdengar begitu memilukan, apa sebegitu rapuhnya kah wanita ini?
"Kau benar, aku memang bodoh." ucapnya di sela-sela tangis yang belum juga mereda.
Sungguh lelaki itu merasa sangat sakit melihat keadaan Ami kini. Ia tak rela melihat orang yang ia cintai di sakiti oleh lelaki bajingan seperti Agam. Lelaki itu berjongkok di hadapan Ami yang kini tengah memeluk erat kedua kakinya yang ia tekuk. "Ku mohon Ami, jangan bersedih. Aku berjanji, aku akan menikahimu secepatnya."
Ami mendongak, menatap tepat lelaki itu dengan pandangan nanar. "Apa kau bersungguh-sungguh?"
"Tentu Ami, aku sangat bersungguh-sungguh dengan ucapanku."
Ada rasa haru yang menyeruak dalam benak Ami saat ia mendengar penuturan lelaki yang tengah menatapnya dengan sorot mata meneduhkan. Ia menggerakan kedua lengannya untuk memeluk erat lelaki itu ---- Reno. Detik berikutnya senyum tulus tercetak jelas pada wajah tampan Reno, ia membalas pelukan Ami tak kalah erat.
Lelaki itu mengusap pelan punggung Ami dengan lembut, "jangan pernah menangis karena sebisa mungkin aku akan tetap membuatmu tersenyum. Dan aku mohon, berhentilah untuk mencari karena kau adalah milikku Ami."
Tangis Ami semakin deras membasahi baju yang kini Reno kenakan, "terimakasih Reno. Terimakasih."
Suasana hening setelahnya. Seorang lelaki yang sedari tadi mengikuti pergerakan Ami dan Reno dengan membawa sebuah kamera besar seketika terhenti, saat suara berat berteriak memecah keheningan. "Cut!"
Para kru juga pemain lainnya bersorak kegirangan, membuat Ami juga Reno refleks melepaskan pelukan. Keduanya terdiam cukup lama, hingga suara berat itu kembali terdengar menginterupsi pergerakan keduanya.
"Saya sangat senang film ini bisa di selesaikan dengan sangat baik, tidak salah saya memilih aktor seperti Rangga juga aktris seperti Anna."
Ami yang memiliki nama asli Anna itu tersenyum lembut, ia bangkit dari posisinya kala itu. Dengan satu helaan nafas Anna bergumam mengutarakan rasa senangnya, "terimakasih pak. Senang bisa bekerja sama dengan bapak," gadis itu menjabat lengan sutradaranya.
"Sayapun begitu pak, terimakasih telah mengikut sertakan kami dalam projek bapak."
Sutradara itu mengangguk, lalu pamit pergi menghampiri pemain lainnya. Menyisakan Anna dan Rangga pada situasi canggung.
Lelaki itu mencoba untuk memulai percakapan terlebih dahulu, "tadi aktingnya bagus sekali. Saya sampai tidak sadar, bahwa itu hanya sebuah sandiwara."
Anna tertawa. "Saya hanya mencoba sesuatu yang saya bisa, dan dalam take tadi saya mencoba untuk menjiwainya. Karena hal terpenting dalam akting adalah penjiwaan, itu menurut saya."
Rangga mengangguk, ia meminta pada Anna untuk duduk pada sebuah kursi panjang tepat di bawah pohon rindang yang menghadap barat. Senja yang kini tengah menampakan dirinya menjadi pemandangan yang sangat memanjakan mata. Anna duduk dengan lengan yang saling bertautan, sedang Rangga sendiri tengah mencoba untuk menetralkan rasa gugup yang tiba-tiba saja menyerang dirinya.
"Anna," panggil Rangga.
Wanita itu menoleh dengan senyum kikuk yang menghias wajah mungilnya, "kenapa Ga?"
"Ini sudah kesekian kalinya kita menatap senja di tempat yang sama, dan mungkin ini adalah kali terakhir kita dapat menatap senja lagi di sini. Klise memang jika aku mengatakan bahwa aku hanyut pada pesonanya, hingga aku jatuh pada tempat terdalam dan tak dapat kembali pada titik semula."
Anna mengernyit tak mengerti, "maksudnya?"
Rangga tersenyum, ia menatap lurus ke depan. "Mungkin senja-pun tahu, jujur bahwa setiap kali aku duduk di sampingmu aku selalu merasa jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aku tahu ini terdengar menggelikan, tapi aku sudah tak bisa lagi menutupi perasaanku untukmu. Aku mencintaimu Anna, sangat mencintaimu."
Anna mematung. Ia cepat-cepat memukul lengannya dengan keras, hingga terdengar pekikan dari dirinya. Tidak! Ini bukan mimpi.
"A-- apa?" kata yang seharusnya tidak usah keluar, tanpa sadar malah terucap.
Rangga tersenyum geli menangkap dengan jelas raut terkejut gadis itu. Ia membenarkan posisinya, menatap tepat pada bola mata berwarna biru itu dengan lembut. Lengannya meraih tangan Anna lalu memegangnya erat, "Anna kau pasti mengerti ini bukan sebuah sandiwara. Kita bukan lagi anak SMA, jadi aku rasa tak perlu jika aku harus mengajakmu berpacaran. So, will you married with me?" Rangga mengeluarkan sebuah cincin intan yang telah ia siapkan jauh sebelum hari ini terjadi.
Anna semakin larut dalam rasa terkejutnya. Ia tak pernah membayangkan akan berada pada posisi ini di luar jam sandiwara. Berkali-kali ia menghela nafas, mencoba untuk mengatur detak jantung yang terlalu cepat, membuat dadanya terasa sesak.
"Rangga," ujar gadis itu dengan suara pelan.
Rangga mendongak lalu tersenyum, "iya Anna?"
"Maaf," Anna melepas genggaman tangan Rangga membuat senyum yang semula tercetak pada wajah lelaki itu seketika surut. "Aku tidak bisa!"
"Ke -- kenapa?"
"Aku sudah bertunangan Rangga satu tahun yang lalu." Kini giliran Rangga yang mematung, cicin yang semula ia genggam jatuh menggelinding entah kemana. Anna kembali melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti, "dengan Agam."
Ternyata rasa terkejutnya tidak hanya sampai itu. Anna merogoh tas kecil yang ada di pangkuannya lalu mengeluarkan sebuah kertas tebal dengan desain yang begitu elegan.
"Minggu depan, aku akan menikah dengan Agam. Ku harap kamu sudi untuk datang menghadiri acara itu, maafkan aku Rangga."
Anna bangkit berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan Rangga yang masih diam membisu di sana. Perlahan kesadaran Rangga mulai terkumpul, ia mengerjapkan mata berkali-kali.
"Kenapa? Kenapa baru sekarang Anna? Setelah semua rasa ini telah aku jatuhkan padamu. KENAPA ANNA?"
Ternyata kisah klasik percintaan Rangga tak cukup sampai di sana. Masih banyak hal yang harus Rangga lewati, untuk mendapatkan cinta sejatinya lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar