Sabtu, 23 Juni 2018

Pelita

Pelita di Senja Hari
Oleh: Sugiarti Rahayu

"Gue gak cinta sama lo," jeda sejenak. "Gue gak pernah cinta sama lo, selama ini lo cuma jadi bahan taruhan gue. Gue kira lo beda, ternyata lo gak jauh beda ya sama cewek murahan di luaran sana."

Usai mengucapkan kalimat itu, ia menendang tongkat yang sedari tadi wanita itu genggam. Membuat tubuh orang itu limbung lalu jatuh dengan posisi menelungkup. Wah, perpaduan yang sangat cocok bukan untuk menjadi bahan tertawaan orang-orang?

"Lo bego, Pelita! Bego!"

Tawa sumbang terdengar setelahnya. Ia melihat wanita itu mendongak dengan senyum getir yang menghias wajah mungilnya, membuat orang-orang yang sedari tadi memperhatikan keduanya menatap dengan tak percaya. Ya ampun? Masihkah ada wanita seperti Pelita lagi? Yang masih dapat tersenyum setelah mendapatkan perlakuan seperti itu?

"Rio," panggil Pelita dengan lengan yang meraba-raba sekitarnya. "Rio masih ada di depan Pelita-kan? Kalau ada Pelita mau Rio dengerin ucapan Pelita kalau Pelita itu sangat sayang sama Rio, Pelita enggak peduli apa yang Rio ucapin barusan. Sekarang kita anggap semua baik-baik aja ya? Rio pasti lelah. Ayo, mari kita pulang, Rio!"

Lelaki itu diam tak bergeming dengan sorot mata memandang wanita itu dengan nanar. Sungguh saat ini ia sangat ingin merengkuh tubuh lemah gadis itu ke dalam dekapan lalu mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali sambil melafalkan ribuan kata maaf.

Rio hendak berjalan mendekati wanita itu. Namun, pergerakannya seketika terhenti saat sebuah bogeman mendarat pada rahang tegap lelaki itu. Rio terhuyung ke belakang tak siap dengan apa yang ia terima.

"Lo pantes dapetin itu! Gue pernah bilang, kalau lo nyakitin Pelita gue enggak akan tinggal diem. Sekarang keputusan lo udah tepat melepaskan Pelita, dan gue janji gue nggak akan pernah izinin lo buat nyentuh Pelita lagi!" tukas lelaki itu tajam. Ia berjongkok di hadapan Pelita yang kini tengah duduk dengan tatapan kosong, perlahan ia menggerakan lengannya menarik Pelita ke dalam dekapan. "Ayo Pelita, kita pulang." bisiknya tepat di samping telinga Pelita.

Usai kepergian dua orang itu, Rio berjongkok dengan tubuh yang bersandar pada tembok. Ia tersenyum dengan lirih, "Pelita lo harus tetap bersinar walau tanpa gue. Lo harus tetep bahagia meski itu tanpa gue. Gue sayang sama lo!"

***
"Pelita?"

Pelita menoleh, namun sayang ia salah melihat arah. "Kenapa Dewa?"

Dewa terkekeh melihatnya, ia menggerakan lengannya lalu memposisikan kepala Pelita agar menatap ke arahnya. "Kamu baik-baik aja kan?"

"Iya, Pelita baik-baik aja kok. Dewa jangan khawatir!"

"Lo yakin masih mau tinggal di rumah ini?"

Pelita mengangguk dengan mantap, "Pelita masih mau tinggal di sini. Pelita mau nunggu Rio pulang," mata Pelita menatap ke segala arah dengan tatapan kosong. Mata indah yang selalu membuat Rio hanyut ke dalam tatapan kosongnya, jatuh pada pesonanya.

"Apa sebegitu cintanya lo sama dia Pelita? Lo tetap bertahan setelah dia perlakuin lo kayak tadi Pelita. Apa yang lo liat dari dia sih? Gue cinta sama lo Pelita, seharusnya lo sadar itu."

Pelita menggelengkan kepala dengan cepat, "apa Dewa lupa kalau Pelita buta? Pelita enggak bisa ngeliat wujud Rio juga Dewa seperti apa. Tapi Pelita tahu, tadi itu Rio cuma kepaksa buat lakuin itu. Pelita tahu Rio enggak niat kayak gitu."

Lelaki itu menatap Pelita dengan tak percaya. Apa-apaan wanita ini? Kenapa pikirannya seakan sudah tertutup rapat untuk mengerti apa yang terjadi? Helaan nafas lelah terdengar dari mulut lelaki itu. Ia mengangguk dengan pasrah, "gue harap lo bahagia Pelita. Bahagia dengan pilihan lo, gue tau mungkin ini saatnya gue nyerah buat dapetin lo."

Pelita merunduk dengan rasa bersalah yang hinggap dalam benaknya. Sungguh, Pelita tak bermaksud untuk mengecewakan Dewa juga Pelita tak berniat untuk menyakiti hati lelaki itu.

Dewa berjalan mendekat ke arah Pelita, lalu ia mengacak pelan rambut Pelita dengan sayang. "Jangan ngerasa bersalah gitu, aku enggak apa-apa kok Pelita. Jangan sedih, karena sebisa mungkin aku akan buat kamu tersenyum. Aku pamit dulu ya, kamu gak boleh ngapa-ngapain ya diem aja di kamar. Dewa sayang Pelita," ia menuntun Pelita agar berbaring di tempat tidurnya.

Usai kepergian Dewa, Pelita kembali duduk menegakan badannya. Otaknya berpikir keras tentang apa yang telah terjadi padanya hari ini. Mulai dari Rio yang mengaku tidak pernah mencintainya, Rio yang menendang tongkatnya, juga Dewa yang mengaku mencintainya. Pelita pusing! Apa yang harus Pelita lakukan agar Rio tidak marah lagi padanya? Pelita tahu dirinya hanya seorang wanita disabilitas yang tidak dapat melihat, tapi Pelita punya semangat yang kuat. Makanya saat ini ia sedang berjalan keluar kamar dengan tangan yang meraba-raba benda sekitarnya, tak jarang tubuhnya terbentur pada meja ataupun dinding.

"Pelita mau masakin buat Rio," gumamnya pada diri sendiri setelah ia berada di dapur.

***
Rio berjalan dengan tergesa-gesa. Pikirannya tengah kacau, yang ia inginkan sekarang adalah berjumpa dengan Pelita, memeluk Pelita, dan juga memiliki Pelita. Sungguh! Rio sangat menyesal telah melakukan itu pada Pelita, namun saat itu ia tak punya pilihan lain ketika Dewa datang kepadanya dan memaksa Rio untuk menyakiti Pelita. Ya ampun, betapapun Rio sangat mencintai gadis yang kini tengah menunggunya di rumah.

"Pelita," panggil Rio saat dirinya telah sampai di rumah. Ia melihatnya wanitanya kini tengah memegang pergelangan tangannya yang terluka juga dengan bercak darah yang menetes di permukaan lantai.

"Eh Rio sudah datang?" ucap gadis itu dengan riang meski ia tak dapat melihat wujud Rio.

Dengan suara yang parau, Rio bertanya "kamu ngapain?"

"Pelita lagi masak buat Rio, pasti Rio laperkan? Tapi maaf makanannya belum jadi-jadi, soalnya Pelita pusing harus ngambil apa kan enggak keliat---"

Sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya, Rio telah bersimpuh di hadapannya. "Maafin aku Pelita, maaf." ucapnya di sela-sela tangis yang semakin deras.

Pelita tersenyum lalu ia meraba bahu Rio dan menuntunnya untuk kembali tegak, "Pelita enggak apa-apa. Rio jangan sedih!"

"Aku salah Pelita, aku jahat."

Pelita menggeleng pelan, ia kembali menggerakan lengannya untuk menyentuh wajah Rio dan mengusap pelan butiran kristal yang terjatuh membasahi wajah lelaki itu. "Rio baik."

Rio menyentuh lengan Pelita yang terluka "Pelita ini kenapa?"

"Hehe, tadi Pelita mau potong bawang terus enggak sengaja pisaunya kena tangan Pelita."

Rio menoleh, melihat pisau yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat ia meraih pisau itu lalu membuangnya ke sembarang arah, "jangan pernah lakuin itu lagi Pelita!"

"Tapi, Pelita pengen buat Rio seneng. Pengen buat Rio jadi cinta lagi sama Pelita,"

Rio mengecup punggung tangan Pelita dengan tangis yang kembali turun, "aku cinta Pelita. Sangat cinta Pelita,"

Pelita terkekeh, "walaupun Pelita buta?"

"Iya."

"Walau Pelita enggak bisa masak?"
"Iya, kamu tahu enggak apa yang tadi kamu potong?"

Pelita mengernyit, "bawang."

Mendengarnya, Rio tertawa dengan terbahak-bahak. "Itu tomat Pelita," ah sungguh wanita itu sangat menggemaskan membuat Rio tak sadar memeluknya dan mengecup puncak kepala wanita itu. "Ayo kita obatin lukanya!"

"Oke."

Pelita baru tahu, ternyata definisi bahagia yang sesungguhnya adalah ketika ada seseorang yang mencintaimu tanpa peduli apa kekuranganmu. Karena cinta sempurna tak membutuhkan fisik yang sempurna.

Duri

Duri yang ku genggam
Oleh: Sugiarti Rahayu

"Sampai kapan aku harus menunggu?"

Lelaki itu menoleh, "aku tidak pernah memintamu untuk menunggu."

"Aku cemburu Allan, aku cemburu!" ucap wanita itu dengan letupan amarah yang siap membludak. "Aku ini istrimu, sudah seharusnya kau hargai aku. Tidak sepantasnya seorang suami berciuman dengan wanita lain di hadapan istrinya, aku terluka Allan atas sikapmu." usai mengatakan itu, tetesan kristal bening terjatuh dari pelupuk mata wanita itu tanpa bisa di bendung lagi.

Lelaki yang ia sebut dengan panggilan Allan itu menggertakan giginya, dengan kasar ia menghempaskan gelas yang tengah ia pegang. "Sudah kubilang, aku tidak pernah berharap pernikahan ini ada. Aku tak pernah sudi bersanding denganmu, bodoh! Aku mencintai wanita itu, bukan kamu! Apa kau terlalu idiot untuk mengerti hal itu?"

Wanita itu mengangguk, "aku tau Allan. Aku mengerti, tapi salahkah aku jika berharap suatu saat nanti kau akan mencintaiku lalu kau akan meninggalkan wanita jalang itu demi aku? Salahkah itu Allan? Selama pernikahan yang telah berlangsung empat dekade ini apa kau masih tidak bisa mencintaiku? Tidak bisa terbiasa dengan hal yang dilakukan bersama ku? Hingga kau memilih untuk kembali merajut jalinan kasih dengan wanita sialan itu?"

"Berkhayal-lah setinggi mungkin, agar kau tahu bagaimana rasanya jatuh dihempaskan oleh kenyataan."

Tak perlu bertanya seberapa sakit hati wanita itu setiap kali mendengar penuturan lelaki bertubuh tegap yang kini berstatus sebagai suaminya. Seberapa lama lagi wanita itu harus bertahan dengan segala sikap lelaki itu padanya? Ia ingin menyerah, tapi tak bisa. Ia ingin melepaskan, tapi rasanya terlalu sakit jika hal itu terjadi.

Memang, sudah seharusnya jangan terlalu memuja mawar. Karena sesuatu yang indah juga dapat menyebabkan tumpah darah.

***

"Apa kau terluka dengan pernikahan yang kamu jalani hingga kini?"

Wanita itu menggeleng dengan cepat, senyum cerah tercetak jelas pada wajah putih pucat miliknya. "Tidak, aku bahagia pernikahan ini terjadi. Suamiku mencintaiku, suamiku menghargai aku, memperlakukan aku dengan sangat baik. Aku sungguh bahagia bisa dipertemukan dengan lelaki seperti Allan."

Orang yang kini ada di hadapannya tersenyum lirih. Ia berjalan semakin mendekat ke arah wanita itu --- Alina istri Allan, tanpa mengucapkan satu katapun ia memeluk dengan erat tubuh lemah Alina. Seberapa hebatpun ia bersandiwara tentang keadannya, sorot mata yang terpancar selalu mengatakan hal sebenarnya. Alina terluka. Alina tak bahagia.

Dengan lengan yang bergetar, Alina membalas pelukan wanita itu --- Ilma. "Aku bahagia Ilma, aku bahagia."

"Hentikan Alina. Ku mohon lepaskan sesuatu yang dapat menyakiti hatimu, terkadang kamu harus mengikhlaskan hal yang tidak di takdirkan untukmu. Untuk apa kamu bertahan dengan segala pengkhianatan yang ia lakukan? Kau pantas bahagia Alina, kau pantas dapatkan itu."

Katakanlah bahwa Alina adalah wanita terbodoh sepanjang peradaban dunia ini. Tetap bertahan meski sayatan luka mengiris-ngiris hatinya.

"Tapi bahagiaku adalah memiliknya Ilma."

Sudah cukup. Ilma muak dengan apa yang di katakan oleh Alina!

"Lo sahabat gue Alina! Gue tau lo enggak bahagia sama dia, apa susahnya sih lepasin aja cowok brengsek kayak dia? Janji dalam akad pernikahan itu apa hah? Menyakiti perasaan pasangannya hah? Enggak kan!"

Alina melepas pelukan itu, ia mendongak menatap tepat pada iris bola mata sahabat sejak kecilnya itu. "Tapi aku enggak bisa Ilma, aku mencintainya. Sangat mencintainya,"

***

Alina menutup buku diary berwarna hitam itu lalu menyimpannya kembali pada laci meja rias yang ada di kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar, kemudian tatapannya terkunci pada sosok lelaki yang kini tengah tertidur dengan lengan sebagai bantalan.

Perlahan ia berjalan mendekat ke arah lelaki itu -- Allan. Senyum lirih timbul begitu saja setiap kali ia memandang wajah suami tercintanya. "Aku mencintaimu, Mas."

Dering ponsel terdengar setelahnya. Dengan hati-hati Alina mengambil ponsel yang tergeletak di samping tubuh suaminya. Ia dapat melihat dengan jelas siapa yang mengirimi pesan pada suaminya di malam hari seperti ini.

Bibirnya bergetar menahan tangis setelah ia membaca pesan singkat di ponsel suaminya.

Teresa: Aku sangat suka dengan cincin yang kau beri, Bang. Aku menerima lamaranmu! Lalu kapan kau akan menceraikan istri sialan mu itu?

Dengan tangis yang bercucuran, ia kembali menyimpan benda pipih itu ke tempat semula. Alina menggerakan lengannya, menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya yang kini tengah terlelap dengan pulas.

"Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu. Seberapa besarpun usahamu untuk menyakitiku, aku akan tetap bertahan. Meski aku tahu, sayatan luka akan semakin banyak aku terima."

Usai mengatakan itu, Alina keluar dari kamar itu. Memang! Terkadang cinta dapat membuat seseorang menjadi buta akan segalanya. Tetap bertahan meski harus tersakiti. Mencintai tanpa ada balasan, sangat menyakitkan. Bahagia itu di ciptakan, bukan dicari dan jika kau tak bahagia bersamanya, lepaskan. Untuk apa menanti bahagia suatu saat nanti. Jika sekarang bisa, kenapa tidak? Namun bertahan nyatanya bukan hal yang terlalu buruk untuk dilakukan. Lakukanlah! Meski bertahan dalam segala pegkhianatan itu seperti menanti pelangi usai hujan di malam hari.

Percaya saja pohon dari sebuah kesabaran akan menumbuhkan buah yang manis, yang dapat kau petik usai semuanya selesai kau lewati.

Ingatan

Rintik Rindu
Oleh : Sugiarti Rahayu

Semua masih sama, seperti malam-malam yang ia jalani sebelumnya. Dia yang berharap perlahan dapat melupakan hal itu, dengan hujan yang seakan enggan membuat ingatan wanita itu lenyap. Ingatan yang selalu tertuju pada delapan dekade lalu lamanya.

Wanita itu membenarkan posisinya kala itu menjadi terlentang dengan lengan sebagai bantalan. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan nanar, matanya telah hilang binar. Lihat! Ia tidak terkapar karena luka, namun pedihnya menyayat dan sangat ia ingat.

Tak terasa butiran kristal bening jatuh begitu saja dari pelupuk matanya, membuat wanita itu cepat-cepat menghapusnya seakan ia tak ingin satu orangpun melihat sisi rapuhnya. Ah padahal di dalam bangunan itu hanya ada dirinya dan lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya juga dengan kenangan yang terus mengikuti tentunya. Ia tersenyum lirih, hujan yang jatuh malam ini hanya akan membawa dua kemungkinan. 'Menghapus segala memori yang membuatnya terluka, atau justru semakin membuat rasa perih dalam jiwa karena luka yang semakin terbuka.

Wanita itu -- Alea. Ia memejamkan mata, memanjatkan doa kilat dalam hatinya agar ia dapat melupakan kenangan yang tentunya bukan hal yang cukup menyenangkan untuk di kenang.

"Alea?" suara berat itu berhasil membuat Alea menatap ke arahnya.

Ia tersenyum, "kenapa Arka?"

"Belum tidur?" tanya lelaki itu masih dengan posisi tubuh membelakangi wanita itu juga lengan yang memegang pena dengan setumpuk buku di hadapannya.

Alea menggeleng pelan. Meskipun ia tahu, lelaki itu tak akan melihatnya. "Belum! Mungkin sebentar lagi, pekerjaanmu belum selesai?"

Terdengar helaan nafas berat dari lelaki itu, "belum masih banyak yang harus aku kerjakan. Kalau kau sudah lelah, tidurlah aku akan mengerjakan pekerjaanku terlebih dahulu."

Alea tidak lagi menjawab. Ia mengubah posisinya menghadap ke arah barat, membuat tatapannya terkunci pada sebuah bingkai foto masa putih abu dulu. Cepat-cepat ia mengatupkan matanya dengan rasa gelisah yang kembali menyerang dirinya.

**

"Alea, bangun."

Arka mengoyang-goyang lengan wanita yang kini tengah tertidur dengan keringat dingin yang bercucuran membasahi pelipis matanya. Berkali-kali wanita itu bergerak gelisah, nafasnya terengah wanitanya kini tengah bermimpi buruk.

"Alea, tenanglah."

Wanita itu membuka matanya lalu duduk dengan tegak,ia mengedarkan pandangannya lalu menatap lelaki yang ada di hadapannya dengan nanar. Tetesan kristal bening kembali jatuh membasahi pipi wanita itu. Ia menangis dengan tersedu-sedu, membuat Arka refleks memeluknya dengan erat.

"Tenanglah sayang, aku ada di sini."

Tangis Alea semakin pecah dadanya bergemuruh hebat. Sesak! Kata pertama yang dapat mendeskripsikan bagaimana keadaan wanita itu.

Ia mencengkram kaos yang lelaki itu gunakan, wajahnya ia benamkan pada dada bidang Arka --- suaminya. "Aku takut Arka, aku takut. Mim -- pi mimpi itu datang lagi," ucap Alea di sela-sela tangis yang belum mereda.

Arka menatap wanita itu dengan sorot mata terluka. Ia tahu, wanitanya kini masih mencintai lelaki yang berada di masa SMAnya.

"Tolong lupakan itu Alea, apa kamu tidak bisa menerima hadirku di sini sebagai suamimu? Kau masih mencintainya Alea? Katakan padaku." ujar lelaki itu setelah melepas pelukannya.

Alea menunduk, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Melupakan lelaki yang telah bertaruh nyawa hanya untuknya? Itu tidak mungkin. Tidak! Sama sekali tidak! Alea memang masih mencintai lelaki itu teramat dalam, hingga tidak ada celah lagi untuk lelaki lain mendapatkan cinta Alea. Termasuk Arka, suaminya kini!

Arka mendecih sinis, "aku tahu Alea. Kau masih sangat mencintainya, lalu untuk apa kita pertahankan hubungan ini jika tidak berlandaskan cinta? Aku mengerti bahkan sangat mengerti, selama ini hanya aku yang berjuang mempertahankan hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi." ia hendak beranjak pergi meninggalkan Alea sendiri di dalam bilik kamar ini.

Namun pergerakannya seketika terhenti saat Alea turun dari ranjang lalu memeluk erat kaki lelaki itu, "maafkan aku Arka. Aku tahu, aku terlalu bodoh. Hingga aku tak bisa memahami arti sebuah kehidupan, tolong beri aku kesempatan. Aku akan melupakannya, yang seharusnya sudah aku lakukan sejak dulu. Aku berjanji Arka, aku akan melupakan hal itu."

Melihat wanitanya kini tengah bersimpuh di hadapannya, membuat hati Arka serasa dihunjam beribu batu. Ia berjongkok lalu memeluk erat tubuh lemah wanita itu lagi, "tolong jangan pernah rusak kepercayaanku Alea. Aku juga berjanji, aku pasti bisa membantumu untuk melupakan itu." bisiknya tepat di telinga Alea.

"Ku mohon, jangan pernah pergi dari hidupku. Kau berati bagiku Arka, sangat berarti."

Arka mengangguk, "tidak akan pernah aku lakukan itu. Aku mencintaimu Alea," ia mengecup kelopak mata Alea yang basah karena air mata. "Jangan menangis, karena sebisa mungkin aku akan membuatmu tersenyum."

Kedua tersenyum lalu kembali saling memeluk erat, menyalurkan rasa hangat yang sudah lama mereka nantikan.

Bukankah untuk melupakan seseorang itu, kita membutuh orang baru dalam hidup ini?